Menilik Ethereum 2.0 yang Dijuluki The Game Changer

Posted on February 26, 2021 in Articles, Kriptopedia
Menilik Ethereum 2.0 yang Dijuluki The Game Changer
View all Articles

Tepat pada 4 November 2020 lalu, Ethereum 2.0 resmi dirilis. Menariknya, informasi perilisan Ethereum 2.0 diumumkan bersamaan dengan road map yang diperbarui pendirinya, Vitalik Buterin.

Dikenal juga sebagai ETH2 atau “Serenity”, Ethereum 2.0 adalah bentuk peningkatan blockchain Ethereum. Ethereum 2.0 diciptakan untuk meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan skalabilitas jaringan Ethereum. 

Sehingga blockchain Ethereum dapat memproses lebih banyak transaksi dan mengurangi kemacetan yang terjadi dalam jaringannya. Pembaruan tersebut seakan mengkonfirmasi kemajuan Ethereum dan fitur-fiturnya di masa kini. 

Alasan Ethereum 2.0 Diluncurkan

Sejak diluncurkan pada 2015 silam, Ethereum berhasil menarik perhatian. Kemampuannya bukan hanya sebagai aset kripto namun juga platform yang terdesentralisasi membuat Ethereum kian digemari. Hal ini dibuktikan oleh data dari laman Consensys yang menunjukkan bahwa pada Mei 2020, jumlah pengguna DApps mencapai angka 31.590. 

Angka tersebut tentu akan bertambah seiring dengan makin banyaknya project token yang akan dirilis. Dari segi pengguna, data laman Statista pada 14 Februari 2021 menunjukkan bahwa volume transaksi di jaringan Ethereum mencapai 1,19 juta per harinya. 

Peningkatan jumlah pengguna itu membuat proses transaksi yang kian lamban. Belum lagi gas fee yang makin meningkat ketika aplikasi pengembang makin besar dan kompleks. Terlebih lagi apabila basis pengguna dari aplikasi tersebut makin besar. 

Di luar itu, persoalan lainnya yang dihadapi Ethereum adalah ketergantungan aplikasi terhadap blockchain. Ketika server Ethereum down, performa smart contract juga akan ikut menurun. Sehingga pengembang juga akan kesulitan meningkatkan fungsionalitas blockchain itu sendiri. Sebab, jika ETH mengalami hard fork, token yang dibuat pengembang juga akan terpengaruh.

Ethereum 2.0

Perbedaan Ethereum dan Ethereum 2.0

Ethereum 2.0 memiliki beberapa perubahan mendasar dalam struktur dan desainnya dibandingkan dengan versi sebelumnya. Perubahan utama Ethereum 2.0 adalah peralihan dari  konsensus Proof-of-Work (PoW) menjadi Proof-of-Stake dan sharding. Kemunculan Ethereum 2.0 ini diharapkan dapat meningkatkan kecepatan transaksi dari 15TPS (transaction per second) menjadi 100.000TPS. 

Proof-of-Work merupakan algoritma konsensus asli dalam jaringan blockchain Ethereum. Konsensus ini berfungsi untuk memverifikasi persyaratan atau pekerjaan yang telah diselesaikan. 

PoW bergantung pada Ethereum miners untuk mengamankan jaringan. Untuk mengamankan jaringan, miners Ethereum harus menyelesaikan teka-teki matematis. Jika berhasil memecahkan operasi matematis tersebut, mereka akan menerima reward

Sistem tersebut berbeda dengan Proof-of-Stake (PoS). Dilansir Investopedia, PoS menggunakan konsep staking atau penguncian aset. Mengadaptasi konsep ini, seseorang hanya dapat mengamankan jaringan dengan bertaruh. Ya, bertaruh. 

Validator akan memilih blok mana yang akan menjadi blok valid berikutnya. Validator yang berhasil memilih blok yang tepat akan mendapatkan reward. Sementara yang salah memilih akan mendapat penalti.

Sistem PoS dalam Ethereum 2.0 diterapkan menggunakan epoch. Epoch adalah kumpulan dari 32 blok yang dimiliki oleh aktor dalam jaringan. Epoch inilah yang kemudian disebut sebagai validator selama 6,4 menit.

Sebuah epoch baru bisa dianggap selesai divalidasi hanya jika dua epoch setelahnya berkembang. Jumlah epoch yang berkembang merupakan cerminan dari berapa lama waktu yang telah berlangsung di jaringan. Termasuk di dalamnya data waktu ketika seluruh transaksi difinalisasi. 

Sistem baru tersebut membuat PoS menjadi lebih hemat energi. Sebab, PoS membuat penggunaan komputasi berat tidak lagi diperlukan. 

Dari segi keamanan, PoS meningkatkan tingkat keamanan blockchain Ethereum 2.0. Kumpulan validator yang membuat sistem lebih terpusat. Agar Ethereum 2.0 dapat kembali menjadi sistem yang terdesentralisasi, pembaruan tersebut membutuhkan 16.384 validator. 

Sempat terdengar kabar bahwa Ethereum Foundation tengah mempersiapkan tim keamanan khusus untuk Ethereum 2.0. Tindakan itu dilakukan untuk meneliti kemungkinan masalah keamanan siber dalam aset kripto. Kabar tersebut muncul dari sebuah cuitan yang dibuat salah satu peneliti Ethereum 2.0 Justin Drake. 

Dalam akun media sosialnya, Justin Drake mengatakan bahwa ia tengah mencari peserta yang ingin bergabung dalam tim khusus Ethereum 2.0. Sayangnya, sampai saat ini, belum ada kepastian mengenai tim khusus tersebut. Sementara itu, untuk mengaudit keamanan kode Ethereum 2.0 dilakukan oleh organisasi termasuk perusahaan keamanan blockchain bernama Least Authority.  

twitter.com/drakefjustin

Fase-fase Ethereum 2.0

Ethereum 2.0 sebenarnya lebih menekankan pada rekayasa ulang seluruh platform Ethereum yang telah ada. Dalam peluncurannya, Ethereum 2.0 menjalani empat fase untuk mendapatkan hasil terbaik dan mencapai tujuannya, yaitu menjadi platform yang lebih scalable

Fase 0

Fase 0 merupakan fase pertama dari Ethereum 2.0. Dalam fase ini, Ethereum 2.0 meluncurkan beacon chain. Beacon chain akan menetapkan dan memelihara mekanisme konsensus bukti kepemilikan. Beacon chain diluncurkan pada April 2020 pada testnet yang disebut Sapphire. 

Testnet (test network) merupakan bagian dari Ethereum yang berfungsi untuk mensimulasikan blockchain ETH itu sendiri. Testnet dijadikan sebagai wadah bagi developer untuk mengunggah percobaannya sebelum diluncurkan. Karena masih berupa percobaan, pengembang dapat berinteraksi dengan smart contract tanpa membayar gas fee.

Agar dapat menuju fase pengembangan berikutnya, Ethereum 2.0 membutuhkan minimal 262.144 validator baru. Apabila masing-masing validator memiliki 32 ETH, itu dalam prosesnya, jaringan Ethereum membutuhkan ‘bahan baku’ sebesar 8.388.608 ETH. 

Fase 0 disiapkan untuk validator dan menugaskan mereka untuk memisahkan tiap shard chain yang berbeda. Oleh karena itu, Danny Ryan, software Developer Ethereum Foundation mengatakan bahwa pengembangan fase 0 lebih kompleks ketimbang fase berikutnya.  

“Pada dasarnya adalah fase 0 adalah fase bootstrap di mana mekanisme dan sistem konsensus baru ini di-bootstrap secara paralel dengan sistem lama,” katanya dalam wawancara dengan Coindesk (17/12/2020). 

Fase 1

Pada fase 1 akan menerapkan shard chain sebagai solusi skalabilitas. Shard adalah 64 mini blockchain yang terpisah dalam blockchain Ethereum. Setiap rantai shard akan beroperasi secara paralel untuk meningkatkan throughput transaksi. Sehingga nantinya dapat mengurangi bottleneck time yang pada akhirnya akan meningkatkan skalabilitas jaringan.

Shard chain ini mampu meningkatkan kecepatan transaksi dari puluhan menjadi ribuan, atau bahkan mungkin puluhan ribu transaksi dalam satu detik. Sehingga dalam Fase 1, Ethereum dapat memproses transaksi yang jauh lebih banyak secara bersamaan. 

Transaksi akan diproses melalui shard chain selama jangka waktu tertentu dan kemudian ditransfer secara acak ke pecahan lain. Oleh karena itu, ketika pemisahan shard chain ini selesai, fase berikutnya akan dapat mengimplementasikan dasar PoS ke dalam sistem.

Fase 1.5

Dalam fase 1.5, pengembang diharapkan dapat mengaktifkan transfer ETH di jaringan. Kemudian menggabungkan metode PoW sebelumnya dengan rantai PoS yang baru. Sehingga pengguna Ethereum dan aplikasi terdesentralisasi (dapps) dapat memasuki blockchain dengan mulus dan mendapat bukti kepemilikan yang baru.

Hasil akhirnya, pengguna dapat menggunakan aset kripto ETH mereka pada versi Ethereum 2.0 dengan mudah, tanpa perlu khawatir koin Ether mereka tertinggal zaman. 

Fase 2.0

Tidak seperti fase-fase sebelumnya, fase 2.0 ini masih kurang terdefinisikan. Masih ada banyak upaya yang dapat dilakukan pada fase 2.0 ini agar dapat berjalan sepenuhnya. Namun, upaya tersebut tentunya membutuhkan banyak waktu.

Pada fase 2.0 ini diharapkan proses transaksi, implementasi smart contract, dan hosting bagi aplikasi terdesentralisasi (dApps) dapat berjalan dengan baik. Fase ini direncanakan akan menyediakan fitur untuk membuat lingkungan eksekusi seperti protokol dari blockchain lainnya, seperti Bitcoin. 

Sisi Lain Proof-of Stake dalam Ethereum 2.0

Menggunakan PoS sebagai konsensus memang akan lebih hemat energi. Namun, proof-of-stake punya sisi lain yang perlu dipahami. Konsep utama proof-of-stake adalah memberikan hak bagi pengguna melakukan validasi berdasarkan jumlah aset yang dimiliki. Sehingga makin banyak aset yang dipunya, semakin besar pula kekuatan yang dimilikinya. 

Itu artinya, pengguna yang memiliki aset dalam jumlah besar dan melakukan staking untuk periode lama mendapat pijakan yang signifikan dalam jaringan Ethereum 2.0.  

Di episode kedua Current Waves yang menampilkan Pendiri dan CEO Atato, Guillaume Le Saint, dan CEO Zipmex, Akalarp Yimwilai mengulas secara mendalam mengenai hal ini. Dalam episode ini, Akalarp dan Guillaume menyimpulkan bahwa kemungkinan staking dapat memusatkan jaringan adalah hal yang tidak masuk akal. 

Kendati PoW dianggap kurang mumpuni untuk mengakomodir Ethereum 2.0, tetapi fakta bahwa tingginya keuntungan karena lahan mining yang makin besar tidak dapat diacuhkan. Sebaliknya, konsensus PoS memberikan skala ekonomi yang lebih kecil. Sehingga biaya staking akan sama, baik Anda melakukan staking sebesar 50 ETH atau 50.000 ETH. 

Selain itu, menurut perkiraan saat ini, kemungkinan peningkatan transaksi antara 1.000 dan 5.000TPS pada Ethereum 2.0 dibandingkan versi sebelumnya belum benar-benar terbukti. Berdasarkan data kecepatan transaksi tersebut, pengembangan Ethereum 2.0 diprediksi akan memakan waktu hingga beberapa tahun. 

Bahkan kemungkinan besar ketika Ethereum 2.0 sudah diluncurkan untuk publik, orang sudah menggunakan layer 2 solution seperti rollup untuk mengatasi masalah skalabilitas. Layer 2 solution adalah istilah untuk solusi yang dirancang untuk membantu memberikan skala pada aplikasi Anda dengan menangani transaksi di luar rantai Ethereum utama (layer 1).

Pexels/Bram van Oosterhout

Ethereum di Masa Depan

Ethereum saat ini telah berkembang menjadi pilar fundamental bagi banyak teknologi inovatif yang bergerak cepat seperti smart ledger dan dApps. Selain itu, ditambah dengan adanya gerakan social distancing selama setahun belakangan ini telah membuat banyak proses dialihkan secara online. 

Kondisi tersebut mempercepat digitalisasi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk transaksi pembayaran. Ethereum 2.0 dapat mempelopori pengembangan blockchain dan smart contract,  terutama pada aspek desentralisasi.

Dengan demikian, rilisnya road map untuk Ethereum 2.0 membuat pihak-pihak yang menggeluti industri kripto bersemangat untuk melihat masa depan blockchain. Ethereum telah menyiapkan panggung untuk pengembangan besar-besaran, terutama dengan terus berkembangnya DeFi dan munculnya non-fungible token (NFT).

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter