Harga Bitcoin Melambung Tinggi di Tengah Pandemi Global, Kok Bisa?

Posted on March 16, 2021 in Articles, Investasi, Kriptopedia
Harga Bitcoin Melambung Tinggi di Tengah Pandemi Global, Kok Bisa?
View all Articles

Bagi masyarakat awam, aset kripto sering kali diasosiasikan dengan Bitcoin. Bahkan tidak jarang muncul anggapan bahwa aset kripto hanyalah Bitcoin semata. Anggapan ini tentu berbuntut panjang. Harga Bitcoin melesat tinggi, bahkan kini hampir mencapai Rp 800 jutaan.

Bitcoin telah menjadi top of mind aset kripto. Dari segi kapitalisasi pasar, Bitcoin berada di posisi puncak, dan memegang peringkat wahid. Saking mendominasinya, Bitcoin berhasil membuat aset kripto lainnya memiliki julukan altcoins yang merujuk pada koin-koin selain Bitcoin.

Popularitas Bitcoin juga tidak sampai di situ saja. Pada awal Februari lalu, salah satu orang terkaya di dunia, Elon Musk memborong Bitcoin dengan jumlah yang fantastis. Melalui perusahaan mobilnya, Tesla, Musk membeli Bitcoin seharga 1,5 miliar dolar AS. Alhasil, harga Bitcoin melambung tinggi menjadi 44.220 dolar AS dan terus meningkat hingga hari ini. 

Dilansir dari The Spectator Index, per tanggal 14 Maret 2021, harga Bitcoin mencapai 60.350 dolar AS atau setara dengan Rp 882.538.642. Harga Bitcoin tersebut mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Apalagi mengingat seminggu sebelumnya Bitcoin masih berada di harga  51 ribu dolar AS.

Sebulan sebelumnya, Bitcoin masih berada di level 44.700 dolar AS. Sementara, pada tiga bulan lalu, nilainya sebesar 18.300 dolar AS, dan enam bulan lalu harga Bitcoin hanya berkisar  10.200 dolar AS.

Kenaikan harga Bitcoin dalam kurun satu tahun terakhir menarik minat banyak orang untuk turut menjadi pegiat aset kripto. Padahal, keadaan ekonomi selama setahun terakhir dinilai tidak menguntungkan. Pandemi COVID-19 yang melanda dunia berhasil menggoyahkan berbagai sisi ekonomi. Mulai dari industri pangan, pakaian, hingga pariwisata tanpa terkecuali.

Tapi mengapa Bitcoin justru malah makin bersinar di tengah kondisi perekonomian dunia yang lesu dan ramainya kabar buruk? 

Harga Bitcoin
Unsplash/Andre Francois McKenzie

Mengapa Harga Bitcoin Terus Meninggi?

Bitcoin sebagai Inflation Hedge

Dilansir coinmarketcap, aset kripto kini meraih popularitas sebagai safe haven sama seperti emas. Investor berusaha menyelamatkan dana mereka dari pasar saham yang lesu akibat digempur pandemi COVID-19 ke dalam Bitcoin dan emas. 

Kedua aset ini dianggap sebagai investasi paling cocok saat sedang terjadi penurunan pasar dunia. Bitcoin sebagai aset yang terdesentralisasi hanya bergantung pada mekanisme pasar. Bahkan banyak yang mengklaim Bitcoin mampu bertahan di tengah kondisi inflasi yang berkepanjangan.

Hal tersebut disebabkan karena Bitcoin memiliki jumlah yang terbatas. Munculnya kebijakan pemberian stimulus untuk menggerakkan roda perekonomian membuat daya beli uang menurun akibat inflasi. Sebaliknya, Bitcoin dengan jumlah yang terbatas membuat jumlah penawaran berkurang sementara permintaannya meningkat.

Bitcoin juga menjadi aset penyimpan kekayaan pertama yang jumlahnya tidak dipengaruhi oleh pergerakan permintaan di pasar. Sehingga, keinginan masyarakat untuk menghindari inflasi dengan berinvestasi di Bitcoin semakin tinggi. 

Meningkatnya Popularitas dan Penggunaan Bitcoin sebagai Alat Pembayaran

Popularitas Bitcoin bukan hanya dirasakan oleh pegiat kripto saja. Awal Februari lalu, Elon Musk melalui perusahaan mobilnya, Tesla, memborong Bitcoin dalam jumlah yang fantastis. Kabarnya, keputusan membeli Bitcoin dilakukan sesuai dengan kebijakan Tesla yang akan menerima BTC sebagai alternatif metode pembayaran. 

Tak lama setelahnya, perusahaan pembayaran digital Paypal mengumumkan bahwa mereka akan menjadikan aset kripto sebagai salah satu alat pembayaran. Paypal juga menyediakan platform exchange jual beli aset kripto untuk empat koin ternama, yakni Bitcoin, Bitcoin Cash, Ethereum, dan Litecoin. 

Keputusan itu berbuah manis. Februari lalu, tercatat ada 350 juta pengguna Paypal yang mengadopsi aset kripto guna dijadikan alat pembayaran. Selain itu, sekitar 30 juta toko di Paypal memutuskan untuk menerima aset kripto sebagai alat pembayaran transaksi.

Langkah PayPal dalam mengadopsi aset kripto dalam layanannya cukup tak disangka. Terutama mengingat kerasnya sifat Paypal dalam menentang keberadaan aset kripto. 

Apabila Paypal berubah haluan, langkah yang sama mungkin saja akan diadopsi oleh perusahaan-perusahaan keuangan lainnya. 

Baca juga: Bisakah Investasi Bitcoin Tanpa BTC?

Jumlah Bitcoin yang Terbatas

Pegiat aset kripto pasti tahu bahwa jumlah Bitcoin sangat terbatas, yaitu sekitar 21 juta koin saja. Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk memiliki suatu barang yang langka. Hal ini karena kelangkaan dan eksklusivitas menambah nilai suatu barang. 

Bagi investor, tingginya nilai Bitcoin akan dijadikan sebagai tolok ukur untuk berinvestasi. Sesuai dengan teori permintaan dan penawaran, semakin tinggi permintaan dan makin terbatas penawaran, maka harga Bitcoin pun semakin tinggi. 

Akses Investasi Bitcoin yang Lebih Mudah

Semakin ramai tren investasi bitcoin, makin banyak juga perusahaan yang mengambil kesempatan untuk memfasilitasi kegiatan transaksi aset kripto sebagai investasi. Hal ini membuka banyak peluang bagi platform exchange untuk melakukan transaksi jual beli bitcoin.

Akses yang makin banyak dan beragam membuat keinginan masyarakat untuk mempelajari aset kripto pun bertambah. Minat masyarakat untuk bergabung pada akhirnya akan mempengaruhi mekanisme pasar. Dampaknya, harga Bitcoin akan terus meningkat. 

Nilai Bitcoin Lebih Fleksibel Ketimbang Mata Uang Fiat

Saat inflasi terjadi, masyarakat dan investor pada umumnya akan melepaskan dana mereka dari investasi di mata uang fiat. Hal ini disebabkan karena inflasi merupakan momen di mana nilai uang konvensional menurun. Oleh sebab itu, Anda disarankan untuk berinvestasi di aset lain yang tidak terlalu terpengaruh secara nilai.

Bitcoin misalnya, nilai aset kripto malah cenderung bertambah karena permintaannya yang tinggi ketika masyarakat mencari alternatif investasi dari mata uang fiat. 

Sebaliknya, ketika ada deflasi, masyarakat umumnya akan berpegang teguh pada mata uang fiat. Sebab, deflasi menjadi saat bagi mata uang fiat untuk mengalami kenaikan nilai. 

Namun sayangnya, hal tersebut diprediksi tidak akan terlalu berpengaruh terhadap valuasi aset kripto. Bahkan bisa dikatakan bahwa ketika keadaan keuangan masyarakat menguat, maka keinginan untuk membeli aset kripto juga turut bertambah.

Baca juga: Investasi Bitcoin di Tengah Pandemi: Rugi atau Cuan?

Whale Bitcoin 

Ketika kondisi perekonomian menurun, pegiat aset kripto kelas kakap atau yang biasa dikenal sebagai whale akan menahan jumlah Bitcoin yang mereka miliki. Whale dalam industri aset kripto tidak hanya memegang puluhan Bitcoin saja. Jumlahnya juga bisa mencapai ratusan hingga ribuan BTC. Langkah tersebut membuat nilai Bitcoin tertahan, dan bahkan akan menjadi semakin tinggi. 

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter