Investasi Bitcoin di Tengah Pandemi: Rugi atau Cuan?

Posted on February 28, 2021 in Articles, Investasi, Kriptopedia
Investasi Bitcoin di Tengah Pandemi: Rugi atau Cuan?
View all Articles

Masa pandemi nampaknya memang menjadi waktu yang tepat bagi aset kripto untuk bersinar. Di saat saham dan pasar global mengalami pelambatan akibat COVID-19, kripto justru mengalami lonjakan harga yang signifikan. 

Masa awal pandemi, di awal Maret 2020, harga Bitcoin melambung tinggi dari Rp 64 juta menjadi Rp 135 juta. Kenaikan harga ini berlangsung sangat cepat. Bahkan pada masa tutup tahun, harga Bitcoin sudah mencapai angka Rp 300 jutaan. Angka tersebut terus meningkat, hingga hari ini, Bitcoin mencapai angka Rp 675 juta. 

Padahal, di periode yang sama, awal Maret dianggap sebagai bencana bagi pasar global. Virus corona yang menyebar di berbagai negara membuat Pemerintah terpaksa mengambil keputusan berat. Mulai dari menerapkan pembatasan perjalanan hingga lockdown yang berimbas pada menurunnya pertumbuhan ekonomi. 

Baca juga: Aset Kripto Bullish! Bitcoin Lebih Mahal dari Sekilo Emas

Kilau Aset Kripto di Tengah Pandemi

Di antara sekian banyak industri, pasar saham adalah sektor yang mengalami penurunan tercepat dalam sejarah dan paling dramatis sejak 1929. Selain pasar saham, sektor lain yang paling terpukul adalah pariwisata, perhotelan, serta penerbangan. 

Ada banyak maskapai, hotel, dan pelaku pariwisata yang terpaksa melakukan PHK, merumahkan pegawai, hingga gulung tikar. Seiring dengan hal itu, daya beli masyarakat pun turut menurun. 

Sementara itu, aset kripto justru makin diperhatikan oleh khalayak. Terutama ketika halving terjadi pada Mei 2020 lalu. Harga Bitcoin makin meningkat karena jumlah koin yang dapat ditambang jadi lebih sedikit. 

Investor dan trader berusaha memanfaatkan diversifikasi aset mereka di aset kripto untuk menutup kerugian dari sektor lainnya. Melalui aset kripto, trader dan investor berusaha mendapatkan imbal hasil yang besar dalam waktu singkat. Sifat Bitcoin yang terdesentralisasi membuat aset kripto ini tidak dipengaruhi atau terikat dengan institusi apapun. 

Relasinya dengan mata uang fiat pun berbanding terbalik. Ketika mata uang fiat dicetak, terutama untuk kebutuhan stimulus ekonomi, nilainya mengalami inflasi. Sebaliknya, Bitcoin justru cenderung mengarah ke deflasi. Karena pembatasan supply yang terjadi dan peningkatan permintaan, nilai Bitcoin melesat. 

Selain itu, pembatasan perjalanan dan kebijakan #dirumahsaja membuat banyak orang mengandalkan teknologi dalam setiap aktivitas. Pandemi membuat infrastruktur ekonomi terakselerasi. Digitalisasi industri berjalan menjadi lebih cepat. 

Baik Pemerintah, perbankan, dan penyedia layanan keuangan lainnya harus mempercepat pembangunan infrastruktur digital. Mereka harus menyiapkan layanan keuangan berbasis teknologi yang mengakomodir transaksi jarak jauh. Faktor ini menjadi salah satu alasan teknologi blockchain juga turut mengalami perkembangan pesat semasa pandemi. 

Perbankan bahkan berlomba-lomba untuk menyediakan payment gateway dan layanan berbasis kripto. Di dalamnya tersedia layanan penarikan, setoran, transfer, dan pembayaran melalui dompet digital. 

Investasi Kripto
Unsplash/Mathieu Stern

Reputasi Aset Kripto

Dilansir Finance Derivatif, aset kripto kini mulai mendapat reputasi sebagai investasi safe haven seperti emas dan logam mulia lainnya. Kendati Bitcoin berjalan dalam sistem peer-to-peer (P2P), namun seiring waktu, teknologi blockchain di dalamnya memberikan keamanan yang lebih tinggi. 

Bagai dua sisi mata uang, tingkat keamanan tinggi dalam blockchain justru membuat Bitcoin kurang menarik dijadikan sebagai metode pembayaran. Hal tersebut disebabkan karena waktu transaksi dan verifikasi transaksinya yang relatif lama. 

Oleh sebab itu, investasi Bitcoin dijadikan sebagai alternatif untuk menyimpan nilai. Terlebih karena selama dekade terakhir, nilainya mengungguli berbagai jenis aset dan ekspektasi, termasuk real estate, emas, dan S&P 500. 

Jumlah pasokan yang terbatas hanya 21 juta BTC membuat Bitcoin mendorong harga aset kripto ini semakin tinggi. Tanpa disadari, faktor itu mengembangkan persepsi di masyarakat luas bahwa Bitcoin dianggap mirip seperti emas digital.  

Anthony Scaramucci dan Brett Messing dalam CNN Business, bahkan menyatakan bahwa Bitcoin sudah menjadi salah satu alternatif menarik untuk investasi jangka panjang. Sebagai investasi, Bitcoin menawarkan nilai jangka panjang yang signifikan.

Tidak seperti emas yang bisa ditambang dan belum diketahui batas akhir pasokannya, Bitcoin menjadi alat penyimpan nilai pertama di dunia yang jumlahnya tidak dipengaruhi peningkatan permintaan. 

Baca juga: Siap-siap, Indonesia Akan Punya Rupiah Digital!

Apakah Investasi Bitcoin Teregulasi?

Pertumbuhan Bitcoin yang cepat, terutama di masa pandemi mendorong Pemerintah dan institusi keuangan untuk segera turun tangan. Dalam fase adopsi awal ini, banyak negara yang kini mengakui Bitcoin sebagai komoditas aset, termasuk Indonesia. 

Pemerintah secara langsung merumuskan regulasi baru yang mendorong adopsi kelembagaan secara lebih luas. Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Bappebti telah memasukkan Bitcoin ke dalam 229 aset kripto yang legal untuk diperdagangkan.

Selain itu, Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia mengumumkan bahwa bank sentral tengah merumuskan CBDC (Central Bank Digital Currency). Tak bisa dipungkiri, kemunculan CBDC di Indonesia juga dipengaruhi oleh kehadiran Bitcoin. 

Minat masyarakat yang tinggi dalam aset kripto juga memicu hadirnya beragam platform yang memudahkan publik untuk belajar dan berinvestasi. Di Indonesia sendiri, ada 13 platform perdagangan aset kripto yang telah teregulasi oleh Bappebti dan Kominfo. Zipmex adalah salah satu di antaranya. 

Di Zipmex, aset pengguna juga akan memperoleh keamanan tingkat tinggi. Karena, Zipmex telah bekerja sama dengan kustodian BitGo. Sehingga tiap pengguna mendapat jaminan asuransi hingga 100 juta dolar AS.

Sementara itu, dari segi kemudahan transaksi, aset kripto menjadi lebih mudah diakses. Perbankan kini telah bekerja sama dengan platform perdagangan aset kripto untuk menyediakan layanan penarikan, deposit, dan pembelian aset kripto. Langkah itu kemudian disusul oleh payment gateway, misalnya seperti Paypal. 

Kendati nampak menggiurkan, aset kripto tak hadir tanpa kekurangan. Volatilitasnya yang signifikan membuat investasi aset kripto perlu dipertimbangkan dengan matang. Terutama apabila Anda berencana untuk melakukan trading, bukan sekadar investasi semata. 

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter