Koleksi NFT Twitter Naik Daun, Untung atau Rugi?

Posted on March 11, 2021 in Articles, Berita Kripto
Koleksi NFT Twitter Naik Daun, Untung atau Rugi?
View all Articles

Beberapa hari lalu, CEO Twitter Jack Dorsey mengumumkan bahwa ia akan melelang kicauan pertamanya di Twitter pada tahun 2006 silam. Kicauan itu bertuliskan “just setting up my twttr”, yang berarti ia baru saja menyelesaikan pengaturan awal akun Twitter-nya. 

Hingga artikel ini ditulis, penawaran tertinggi datang dari Sina Estavi, CEO Bridge Oracle, dengan nilai sebesar 2,5 juta dolar AS atau setara dengan Rp 36 miliar. 

Kegiatan melelang kicauan Twitter tidak hanya dilakukan oleh Jack Dorsey saja. Musisi Soulja Boy juga melakukan hal yang sama dengan kicauan-kicauan akun Twitter-nya. Dalam kurun waktu tiga jam, Soulja Boy telah menjual lima kicauannya. Harga kicauan pertama yang ia jual mencapai hingga 1.288 dolar AS atau setara dengan Rp 18,5 juta.

Lelang kicauan Twitter yang dilakukan Jack Dorsey dan Soulja Boy diselenggarakan di platform digital Valuables. Valuables merupakan platform yang mewadahi Non-Fungible Token (NFT) untuk diperjualbelikan. 

Berbasis Ethereum, platform Valuables memungkinkan pengguna media sosial Twitter untuk mengautentikasi kicauan Twitter-nya untuk dijual dalam bentuk token. Kicauan Twitter yang dilelang di Valuables akan dianggap seperti tanda tangan digital. Dalam proses lelangnya, pemilik kicauan akan menerima tawaran orang yang ingin membeli cuitannya dengan aset kripto.

nft twitter pertama jack dorsey

Apa Itu NFT?

Melihat praktik jual beli NFT kian populer, lantas muncul pertanyaan apakah hal ini akan menjadi tren baru. Sebelum menganalisis hipotesis tersebut, ada baiknya kita mengenal lebih jauh mengenai NFT (Non-Fungible Token).

Non-Fungible Token atau NFT adalah aset digital yang dapat mewakili beragam macam barang berwujud maupun tak berwujud yang dianggap unik. NFT terenkripsi dengan unik sehingga tidak bisa digantikan oleh token lain. Setiap token memiliki kode dan informasi unik yang berbeda satu dengan lainnya. 

Ciri ini menjadi pembeda yang paling besar antara NFT dan aset kripto lainnya. Terhadap Bitcoin misalnya, NFT tidak dapat sembarang ditukar karena tidak bisa diukur menggunakan ekuivalensi yang sama. Sementara Bitcoin, bisa ditukar dengan mudah asalkan memiliki nilai yang sama. 

Baca juga: Lebih Dekat dengan Non-Fungible Token (NFT), Token Spesial Bagi Gamer dan Kolektor

Mengapa NFT Bisa Memiliki Nilai Tinggi?

Menurut Sarah Jamieson dalam tulisannya yang berjudul Persuasion Psychology: Scarcity and Exclusivity, kelangkaan dan eksklusivitas memicu respon emosional. Sebab, manusia umumnya tidak bisa menolak keinginan diri sendiri untuk memiliki barang yang langka dan eksklusif. Kedua sifat tersebut menjadikan suatu barang memiliki nilai yang sangat berharga sehingga kita merasa harus memilikinya.

Dengan keunikan yang dimiliki oleh non-fungible token, masing-masing token yang diwakilinya memiliki sifat eksklusif dan langka. Kedua sifat tersebut kemudian membuat orang-orang yang mampu memilikinya nampak lebih hebat ketimbang pengguna lain. 

Hal ini dikarenakan mereka merasa memiliki kemampuan dan sumber daya lebih dibanding orang lain. Sehingga mereka bisa memiliki sebuah NFT yang hanya ada satu di dunia.

Jika suatu NFT bisa menciptakan situasi tersebut, bayangkan apabila barang-barang representasi token itu dijadikan barang koleksi. Dengan kelangkaan dan eksklusivitasnya, akan banyak pegiat aset kripto yang rela mengeluarkan modal yang tidak sedikit untuk bisa memiliki NFT. Hal inilah yang kemudian menjadikan koleksi aset kripto NFT memiliki nilai yang sangat tinggi. 

Dilansir dari laman Forbes, nilai seluruh pasar aset NFT tiga tahun lalu tidak lebih dari 43 juta dolar AS atau sekitar Rp 616 miliar. Namun, pada akhir 2020 kemarin, nilainya naik sebesar 705 persen menjadi total 338 juta dolar AS atau setara dengan Rp 4,8 triliun. Data tersebut merupakan estimasi dari nonfungible.com, sebuah situs yang memonitor seluruh kegiatan pasar aset NFT.

Meskipun estimasi nilai terkini belum tersedia, namun mengingat tingginya kegiatan transaksi NFT selama dua bulan terakhir, dapat dipastikan nilai saat ini sudah bertambah banyak. Pada Februari kemarin saja, sudah ada sekitar 150 ribu penjualan NFT dengan nilai sebesar 310 Juta USD atau sekitar Rp 4,4 triliun. Hampir lima kali lipat dari penjualan sepanjang 2020 saja.

Apakah Koleksi NFT Menguntungkan?  

Menurut Nadya Ivanova, pengamat non-fungible token di L’Atelier, kegiatan jual beli NFT memiliki risiko yang besar. Meskipun transaksi NFT bernilai sangat tinggi di pasar aset, namun Anda harus tetap mempertimbangkan beragam hal. 

Hal ini dikarenakan transaksi jual beli NFT adalah hal yang masih sangat baru. Sehingga masih ada banyak siklus yang mesti dilalui untuk menentukan nilai sesungguhnya dari suatu NFT. Terutama hingga para pegiat kripto dapat memastikan sistem terbaik dalam kegiatan jual beli NFT.

Kegiatan mengoleksi kicauan Twitter sebagai NFT yang sedang digilai oleh pegiat kripto saat ini memang memunculkan banyak spekulasi. Apakah kegiatan ini akan menjadi tren terbaru di masa depan atau malah sebaliknya? 

Hal lainnya yang perlu diperhatikan saat jual beli tweet NFT adalah bahwa kegiatan ini masih sangat baru. Sehingga, volatilitasnya sangat signifikan. Tetapi, apabila volatilitasnya dapat dimanfaatkan dengan baik, pegiat kripto dapat menuai keuntungan yang besar.

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter