Menerawang Masa Depan NFT di Indonesia

Posted on March 26, 2021 in Articles, Investasi, Kriptopedia
Menerawang Masa Depan NFT di Indonesia
View all Articles

Sebulan belakangan ini, NFT menjadi perbincangan yang tiada habisnya. Kehadiran NFT ini seakan menjungkirbalikkan industri seni, musik, dan bahkan dunia internet. Hampir setiap hari, Anda bisa menemukan kabarnya di berbagai media sosial dan berita, baik di dunia maupun Indonesia. 

NFT di Indonesia sebenarnya adalah barang baru. Namun, sejak pemberitaan CEO Twitter, Jack Dorsey, yang berhasil menjual tweet pertamanya dalam bentuk NFT hingga hampir 2,5 juta dolar AS atau setara dengan Rp 36 miliar membuat topik NFT di Indonesia meroket. Padahal, cuitan yang ia jual tersebut hanya bertuliskan “just setting up my twttr”. 

Sekilas memang nampak bukan sebagai sesuatu yang penting untuk diketahui atau dimiliki. Namun, cuitan tersebut berhasil diganjar harga yang mahal. Semakin langka dan orisinil sebuah karya, maka makin mahal pula harganya. Itulah yang membuat NFT menarik bagi khalayak, terutama untuk pegiat aset kripto.

Selain Jack Dorsey, digital artist Mike Winkelmann, atau yang dikenal sebagai Beeple, juga baru saja menjual karya seni miliknya dalam bentuk NFT. 

Karya milik Beeple berhasil terjual seharga 69 juta dolar AS atau setara dengan Rp 994,7 miliar di rumah lelang terkenal Christie’s pada tanggal 11 Maret silam. Harga tersebut merupakan harga tertinggi ketiga yang pernah didapatkan oleh seniman mana pun, setelah Jeff Koons dan David Hockney.

Popularitas NFT tidak sampai di situ saja. Selain menjadi primadona di kancah seni digital, aset digital tersebut juga menarik perhatian di dunia game. Pemain game terkenal seperti PewDiePie bahkan turut mempromosikannya. Salah satu game yang ia promosikan adalah Wallem. Wallem adalah game serupa Pokemon-Go yang menggunakan peta dunia untuk mengumpulkan token dalam bentuk “skin”.

Wallem bukan satu-satunya. Sebelum Wallem, ada sebuah game bernama CryptoKitties yang lebih dulu menggunakan blockchain dan aset kripto dalam permainannya. CryptoKitties merupakan permainan koleksi kucing dalam bentuk digital yang dibangun dengan memanfaatkan smart contract Ethereum.

CryptoKitties memungkinkan pemainnya memiliki kucing virtual dengan karakteristik yang unik. Seperti di dunia nyata, kepemilikan kucing di CryptoKitties bersifat resmi dan seutuhnya. 

Ketika Anda mengadopsi hewan peliharaan, hewan tersebut akan menjadi milik Anda sepenuhnya. Begitu pula kucing yang diadopsi pemain di Cryptokitties. Kucing-kucing tersebut akan langsung menjadi milik pemain yang mengadopsinya. Status kepemilikannya pun bisa dibuktikan melalui ledger yang terdapat dalam teknologi blockchain.

Revolusi NFT dalam Game dan Seni

Nonfungible Token atau NFT adalah aset digital yang dapat mewakili berbagai produk. Mulai dari karya seni, musik, hingga collectible items. Sama seperti instrumen investasi maupun aset pada umumnya, NFT mendapatkan harganya melalui mekanisme pasar. Tingkat permintaan dan penawaran aset menjadi penggerak utama harga NFT.

Tidak seperti aset kripto, NFT tidak dapat dipertukarkan satu sama lainnya. Hal ini disebabkan karena NFT menggunakan teknologi tokenisasi. Tokenisasi membuat masing-masing produk atau replikasi memiliki kode unik yang berbeda satu dengan lainnya. 

Serupa dengan kartu identitas, masing-masing NFT berisi informasi dan data yang berbeda-beda. Data ini membuat NFT tidak dapat untuk dipertukarkan satu sama lain.

Sebagian besar token NFT dibangun menggunakan salah satu dari dua standar token Ethereum (ERC-721 dan ERC-1155). Fitur smart-contract dalam Ethereum memungkinkan pengembang untuk membuat dan mengembangkan NFT dalam jaringannya dengan mudah.

NFT pertama kali muncul ke permukaan pada tahun 2017. NFT berhasil menjadi berita utama ketika CryptoKitties, permainan yang diciptakan oleh Dapper Labs berhasil menyumbang pengguna baru di Ethereum sebesar 95 persen. 

Melihat keberhasilan yang diraih oleh CryptoKitties, platform NFT seperti Nifty Gateway, SuperRare, Async Art, dan platform lainnya dengan cepat muncul ke permukaan sebagai pemain utama materi iklan untuk memonetisasi pekerjaan di dunia digital.

NFT di Indonesia
NBA TopShot

Setelah berhasil dengan CryptoKitties, Dapper Labs, perusahaan yang menciptakan tokenisasi kucing digital ini melakukan kerjasama dengan NBA dengan membuat NFT bernama Top Shot. NFT ini juga merupakan collectible item yang berisikan potongan klip singkat para pemain basket NBA. 

Kehadiran NFT Top Shot ini disambut dengan meriah, bahkan hingga hari ini, penjualan NFT tersebut meningkat setiap harinya. NBA Top Shot juga merupakan salah satu faktor meningkatnya popularitas NFT pada masyarakat yang awam akan industri kripto.

Berdasarkan data yang diperoleh dari cryptoart.io, terdapat kenaikan drastis atas pembelian NFT berbentuk crypto art pada Januari 2021. Kenaikan drastis ini ditandai dengan total NFT terjual yang telah melampaui 100 juta dolar AS atau setara dengan Rp 1,4 triliun.

NFT di Indonesia
cryptoart.io

Hadirnya NFT seakan menjadi angin segar untuk para seniman, pasalnya NFT yang mengandalkan token ERC-721 ini mengurangi peran pihak ketiga, sehingga seniman dapat memiliki royaltinya dan tanpa takut hasil karya seninya ditiru.

Berdasarkan data market tracker NonFungible.com, banyak kolektor yang telah menghabiskan lebih dari 200 juta dolar AS atau setara Rp 2,8 triliun untuk mendapat karya seni berbasis NFT dalam sebulan terakhir. Jumlah tersebut tentu saja sangat fantastis apabila dibandingkan dengan transaksi NFT sepanjang tahun 2020 yang hanya mendapatkan 250 juta dolar AS saja.

Sementara itu, dalam platform game memiliki sirkulasi yang sangat besar. Pada November 2020, gamers mengeluarkan biaya hampir sebesar 1.5 juta dolar AS atau sekitar Rp 21,6 miliar untuk membeli NFT. Dengan perkembangan seperti ini, diperkirakan bahwa platform NFT di dunia game akan semakin meningkat karena daya beli pemainnya sangat tinggi.

NFT di Indonesia: Kecanggihan yang Tertunda

Di Indonesia, tren NFT dalam bentuk cryptoart juga digandrungi oleh seniman digital. Ribuan karya seni digital oleh seniman digital Indonesia diperjualbelikan di forum-forum platform berbasis di luar negeri seperti SuperRare dan Nifty Gateway.

Tidak hanya dalam bentuk seni, NFT juga digandrungi oleh para pemain game. Salah satunya adalah Wendy Marvin, Co-Founder PO1Network dan pengamat aset kripto di Indonesia. 

Menurut Wendy Marvin, game NFT banyak menarik pasar anak muda. Sebab, pemain tidak hanya menamatkan permainan seperti zaman game konsol. Tetapi, juga mendapatkan penghasilan melalui reward yang didapatkan dari game tersebut. Reward diberikan untuk membantu aset digital meningkatkan performa volume trading di pasar aset kripto.

“Aset kripto juga pertama kali dihebohkan oleh para gamer yang menggunakan VGA untuk membeli aset kripto. Para gamer dikenal sebagai kelompok yang rela mengeluarkan biaya yang besar demi kelancaran mereka menjalani hobi tersebut,” kata Wendy Marvin dalam wawancara dengan Zipmex, Jumat (19/3).

Saat ini aset digital yang ditokenisasi sebagai NFT sebagian besar hanya terbatas pada karya seni digital dan properti game. Tetapi, tidak menutup kemungkinan variasinya semakin berkembang ke depannya.

Maryadi Laksono, Founder Mal Associates dan pengamat aset kripto di Indonesia, berpendapat bahwa teknologi NFT dan blockchain secara umum bisa diterapkan dalam dunia perbankan. Menurutnya, proses-proses seperti loan approval process, data verification, jaminan pinjaman dalam layanan keuangan akan sangat terbantu jika NFT diaplikasikan.

Sayangnya, penerapan teknologi canggih tersebut bukannya tanpa hambatan. Blockchain masih merupakan hal yang asing di Indonesia. Tidak semua orang familiar dengan teknologi blockchain.

“Seharusnya teknologi ini ramai-ramai dipelajari agar bisa diimplementasikan di berbagai bidang, sehingga transaksi-transaksi yang dilakukan bisa lebih lancar, aman, dan nyaman,” tambahnya.

Menurut Ari Juliano Gema, Staf Ahli Menteri bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kehadiran NFT ini menjadi peluang baru. Walau begitu, tantangan atau hambatan yang juga harus dipertimbangkan. 

“Menurut saya ini memiliki potensi dan perkembangan yang baik. Ini bisa menjadi suatu peluang yang baru. Namun sekali lagi, ketika ada peluang, pasti ada tantangan. Jangan sampai hanya melihat peluangnya saja tanpa mempertimbangkan tantangannya.” ujar Ari (24/3).

Bagi Wendy Marvin, potensi yang dimiliki NFT tidak bisa direalisasikan tanpa adanya edukasi mengenai aset kripto dan teknologi blockchain kepada masyarakat.

 “Sistem NFT dan blockchain sudah pasti bagus, tapi yang tidak bisa kita kendalikan adalah human error-nya. Perlu adanya edukasi mengapa koin bisa berharga setiap muncul jenis koin baru.”

Setali tiga uang dengan Wendy, Maryadi Laksono juga sependapat dengan pernyataan tersebut. Adopsi aset kripto yang dilakukan Pemerintah Indonesia masih sangat minim, terutama dibandingkan dengan Singapura. 

Pemerintah Singapura menyediakan sandbox. Sandbox diisi oleh ahli IT yang masih muda. Mereka dikumpulkan dan difasilitasi untuk mengembangkan teknologi mereka ingin kembangkan, termasuk blockchain. Tidak heran, investasi berbasis aset kripto belum diminati oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia.

“Kalau di Indonesia, dari level regulator saja sudah tidak familiar dengan istilah-istilah ini. Pebisnis saja belum banyak yang melihat bahwa investasi aset kripto berbasis blockchain bisa membawa keuntungan untuk bisnisnya. Terlebih di tahapan early adoption oleh masyarakat Indonesia ini. Tidak heran banyak yang belum mengerti soal investasi berbasis blockchain ini,” jelas Maryadi. 

Di luar perasaan asing terhadap aset kripto dan isu yang berkembang, teknologi di Indonesia juga menjadi salah satu hambatan yang dimiliki NFT untuk berkembang.

Teknologi NFT dan blockchain masih belum sempurna. Sampai saat ini, NFT dan blockchain masih terus dikembangkan untuk memberikan pengalaman terbaik bagi penggunanya. Di saat yang bersamaan, teknologi di Indonesia juga masih berkembang. Perkembangannya bahkan belum cukup untuk mengimbangi teknologi blockchain versi saat ini.

Jalan Berliku NFT di Indonesia

Dari segi regulasi, Indonesia sendiri merupakan negara yang masih abu-abu atas keterbukaannya terhadap teknologi aset kripto dan blockchain. Kendati aktivitas investasi aset kripto telah dilegalisasi, cryptocurrency masih dianggap sebagai komoditas. Bukan sebagai mata uang digital seperti regulasi negara-negara lainnya. 

Meski begitu, ada kemungkinan Pemerintah akan memanfaatkan teknologi blockchain dalam aktivitasnya. Ari Juliano dalam wawancara bersama Zipmex mengatakan bahwa Pemerintah saat ini tengah mengkaji penggunaan teknologi blockchain dalam Pemerintahan Indonesia.

Belum ada keterangan pasti kapan teknologi mutakhir tersebut akan diimplementasikan. Masih banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh Pemerintah sebelum memutuskan untuk melakukan desentralisasi data.  

“Saat ini kita perlu memilah, apakah semua data harus dipegang oleh Pemerintah lalu didesentralisasi. Atau harus dipilah mana yang desentralisasi dan sentralisasi. Jadi itu memang akhirnya menjadi pilihan kebijakan,” ujarnya. 

Apabila penggunaan NFT dan blockchain dalam Pemerintahan dapat terealisasi, setidaknya Pemerintah dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat. Sebab, di blockchain, setiap lapisan masyarakat punya ruang dan peluang yang sama untuk mengakses informasi publik secara transparan tanpa ada rekayasa. 

Bagaimana menurut Anda?

———————————————

Cryptocurrency legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan dunia cryptocurrency dan trading aset digital hanya di akun media sosial Zipmex:

zipmex.co.id

Instagram Facebook Twitter