Apa Itu Altcoin? – Pengertian, Jenis & Cara Mining

Posted on April 16, 2021 in Articles, Kriptopedia
Apa Itu Altcoin? – Pengertian, Jenis & Cara Mining
View all Articles

Selain Bitcoin, istilah lainnya yang juga ramai diperbincangkan dalam dunia kripto adalah Altcoin. Tak heran, banyak orang yang penasaran dengan apa itu Altcoin. Dalam artikel ini, Zipmex akan membahas seputar apa itu Altcoin, mulai dari pengertian Altcoin hingga jenis-jenisnya.

Untuk mengawali artikel ini, Anda harus mengetahui terlebih dahulu pengertian Altcoin. Diluncurkan pada tahun 2008, Bitcoin menginspirasi banyak orang untuk membuat aset digital mereka sendiri.

Mengenal Altcoin

Alt berasal dari kata “Alternatif”. Altcoin adalah sebutan bagi seluruh aset kripto selain Bitcoin. Saat ini, ada lebih dari 5 ribu Altcoin di pasar aset kripto. Mirip dengan Bitcoin, kamu dapat memperjualbelikan Altcoin dan menghasilkan keuntungan. Pada April 2020, volume perdagangan Altcoin mencapai 35 persen dari kapitalisasi pasar perdagangan aset digital.

Seperti yang bisa dilihat dari grafik di bawah ini, kapitalisasi Bitcoin dalam warna oranye mendominasi hampir semua pasar. Pada tahun 2018, Altcoin mulai mendapatkan momentumnya. Pada satu titik, salah satu Altcoin paling terkenal, Ethereum, mencapai 30 persen dari kapitalisasi pasar kripto.

Walau begitu, kondisi ini tak serta-merta membuat Bitcoin kehilangan pesonanya. Baik Bitcoin maupun Altcoin menjadi pilihan yang menarik bagi banyak trader.

Baca juga: Apa Itu Bitcoin? Semua Wajib Diketahui Tentang Bitcoin (BTC)

Contoh-contoh Altcoin

Setelah mengetahui apa itu Altcoin, definisi atau pengertian Altcoin, kini saatnya kita mengenal kekurangan Altcoin, dan kelebihan Altcoin. Setiap Altcoin memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Menariknya, beberapa di antaranya bahkan memiliki cara kerja yang serupa dengan Bitcoin.

Artinya, ada beberapa aset kripto yang bisa Anda dapatkan dengan cara menambang terlebih dahulu. Untuk itu, mari kita mengenal beberapa Altcoin paling terkenal dan mempelajarinya lebih lanjut.

Ethereum (ETH)

Apa itu Ethereum? Ethereum (ETH) adalah aset digital terpopuler kedua setelah Bitcoin berdasarkan kapitalisasi pasar. ETH dibuat pada 2015 dengan tujuan yang berbeda dengan Bitcoin. Alih-alih didesain sebagai alat pembayaran, Ethereum diciptakan sebagai layanan open source yang menggunakan teknologi blockchain.

Ethereum didesain dengan bahasa pemrograman khusus yang memungkinkan developer untuk membangun dan menjalankan aplikasi terdistribusi. Hal ini memungkinkan Ethereum memfasilitasi transaksi jual beli sekaligus ruang bagi pengembang token tanpa campur tangan pihak ketiga.

Di dalam jaringan Ethereum, terdapat Aplikasi Terdesentralisasi (DApps) dan Smart Contract yang berguna untuk menjalankan program secara otomatis ketika persyaratan tertentu telah terpenuhi.

Smart Contract dibangun dan dijalankan untuk menghindari penipuan, kendali atau gangguan dari pihak ketiga, keterlambatan, atau penundaan. Aplikasi pada Ethereum bekerja pada token kriptografi spesifik platform yang disebut Ether.

Menurut kegunaannya, Ethereum dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti, kodifikasi, mendesentralisasi, mengamankan, dan memperjualbelikan apa saja. Dalam transaksi jual beli, terutama untuk penjualan produk-produk dengan nominal tinggi, kerap muncul rasa khawatir. Apakah penjual dan pembeli memiliki niat murni untuk bertransaksi atau tidak, terutama apabila penjualan properti dilakukan secara remote dari lokasi yang berbeda.

Penjual bisa saja tidak yakin terhadap pembelinya, begitu pula sebaliknya. Oleh sebab itu, penjual dan pembeli membutuhkan perantara terpercaya untuk memperlancar transaksi jual beli. Dengan menggunakan jaringan Ethereum, penjual dan pembeli bisa menggunakan Smart Contract.

Penjual dan pembeli bisa meminta pengembang untuk menyiapkan syarat dan ketentuan untuk menjalankan Smart Contract. Begitu pembeli melakukan pengiriman dana ke wallet penjual dan penjual menyiapkan kontrak, Smart Contract akan mengumpulkan seluruh data dan menjalankan transaksi ke dua belah pihak.

Ethereum didirikan oleh Vitalik Buterin, seorang programmer jenius berdarah Kanada-Rusia. Dilansir Coindesk, pria yang lahir di Moskow pada 1994 itu pernah menjadi co-founder Bitcoin Magazine pada 2012. Sembari menjadi penulis sekaligus co-founder, Buterin mengembangkan Ethereum yang akhirnya pada 2014 mendapat sokongan dana dari Thiel Fellowship.

Baca juga: Mengenal Ethereum, Pelopor Smart Contract di Jaringan Blockchain

Ripple (XRP)

Apa itu Ripple? Ripple (XRP) adalah sebuah nama platform dan token. Ripple atau yang dikenal pula sebagai XRP mewakili seluruh nilai transfer yang terjadi di jaringan Ripple. Berbeda dengan Bitcoin dan Ethereum yang melakukan desentralisasi, XRP menganut paham sentralisasi.

Meski sama-sama merupakan mata uang digital, Ripple dan Bitcoin memiliki tujuan yang berbeda. Bitcoin didesain sebagai mata uang digital yang difokuskan untuk pembayaran barang dan jasa. Sementara Ripple diciptakan sebagai payment settling atau penyelesaian pembayaran, misalnya pengiriman dan penukaran mata uang lintas batas.

Ripple awalnya diciptakan untuk industri keuangan, terutama perbankan yang sering kali mengalami masalah penundaan pengiriman dana. Kehadiran Ripple diharapkan mampu meminimalisir biaya dan waktu transaksi. Di masa depan, Ripple dengan XRP miliknya bahkan diprediksi akan menguasai transaksi internasional. 

Selain memiliki perbedaan tujuan, cara untuk mendapatkan Ripple dan Bitcoin juga berbeda. Dalam Bitcoin dikenal aktivitas mining (penambangan), namun tidak dengan Ripple. XRP dicetak oleh perusahaan Ripple. Jumlah tokennya pun ditentukan serta dibatasi oleh perusahaan pembuatnya.

Baca juga: Apa Itu XRP dan Bagaimana Cara Beli Ripple?

Litecoin (LTC)

Apa itu Litecoin? Litecoin (LTC) adalah aset kripto yang diciptakan oleh seorang mantan insinyur di Google, Charlie Lee. Diluncurkan pada Oktober 2011, koin ini menjadi salah satu aset digital tertua di dunia cryptocurrency. Litecoin memiliki fitur dan cara kerja yang hampir srupa dengan Bitcoin. Hal ini disebabkan karena Litecoin merupakan hard fork dari blockchain Bitcoin itu sendiri. 

Dalam kasus Litecoin, ketika penambang dari blockchain Proof of Work tidak menyetujui pembaruan, maka pembaruan menjadi fork. Penambang yang melakukan pembaruan menambang fork, sementara yang tidak melakukan update akan menambang yang asli. 

Kendati serupa, BTC dan LTC tentu merupakan entitas aset digital yang berbeda. Perbedaan utama antara LTC dan BTC adalah bahwa blok baru Litecoin dibuat jauh lebih cepat daripada Bitcoin. Proses pembuatan blok Bitcoin biasanya memakan waktu setidaknya 10 menit, lebih lama ketimbang Litecoin yang hanya membutuhkan 2,5 menit saja.

Ukuran blok LTC juga lebih besar ketimbang BTC. Tetapi dari segi persediaan, baik LTC maupun BTC memiliki jumlah yang terbatas. BTC memiliki jumlah maksimum 21 juta sementara LTC memiliki persediaan terbatas sebanyak 84 juta koin.

Baca juga: Litecoin, Dari Sekadar Update Jadi Aset

Bitcoin Cash (BCH)

Altcoin hasil hard fork dari blockchain Bitcoin, hampir sama seperti Litecoin. Gagasan proyek BCH muncul dari penambang dan pengembang Bitcoin yang memiliki kepedulian tentang skalabilitas dan kecepatan. Seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna, Bitcoin akan mengalami transaksi yang lebih banyak di masa depan. Untuk mengatasinya, developer dan miner mencetuskan Bitcoin Cash.

Hard fork adalah pembaruan software yang dilakukan di dalam jaringan blockchain. Hard fork akan membuat sistem baru menjadi tidak kompatibel dengan protokol blockchain sebelumnya, sehingga jaringan menjadi terpisah dua dan berjalan secara paralel dalam waktu yang bersamaan.

Perbedaan utama Bitcoin dan Bitcoin Cash dapat dilihat dari ukuran bloknya yang lebih besar. Sehingga, transaksi yang dapat diselesaikan dalam jaringan ini jadi lebih banyak, lebih fleksibel, dan lebih cepat. Sayangnya, transaksi yang cepat dan biaya pemrosesan yang lebih rendah membuat orang-orang berpikir tingkat keamanan BCH lebih lemah.

Walau begitu, dari segi kapitalisasi pasar, Bitcoin Cash berada di peringkat ke-12 Coinmarketcap. Posisi tersebut menunjukkan bahwa BCH mendapat dukungan pasar dan volume perdagangan yang cukup besar.

Baca juga: Bitcoin Cash, Bitcoin Gold dan Bitcoin Diamond, Apa Bedanya?

Cara Pilih Aset Digital Terbaik untuk Investasi

Ada banyak faktor yang harus Anda pertimbangkan sebelum memilih aset digital terbaik untuk investasi. Investasi Bitcoin atau Altcoin dapat memberikan keuntungan maksimal apabila Anda memiliki strategi yang tepat. Ditambah lagi, masa kini bukan lagi seperti awal tahun 2009 ketika Bitcoin baru saja diluncurkan.

Aset digital mengalami kenaikan pada 2017. Kapitalisasi pasar aset digital tumbuh dari 21 miliar dolar AS menjadi 454 miliar dolar AS. Kebanyakan orang memperjualbelikan Bitcoin karena BTC merupakan aset digital paling dominan yang gampang diperoleh.

Seluruh platform exchange pastinya memiliki BTC sebagai salah satu opsi dalam pilihan aset kripto mereka. Dijual pertama kali dengan harga 0,003 dolar AS atau hanya Rp 49, kini BTC sudah mencapai angka 64.349 dolar AS atau setara dengan Rp 941 jutaan. 

Tidak ada cara terbaik untuk menentukan investasi Altcoin yang paling tepat. Setiap investor memiliki kebutuhan, preferensi, dan batasan resiko masing masing. Berikut beberapa tips yang bisa Anda terapkan untuk mencari tahu apa itu Altcoin dan memilih investasi Altcoin paling tepat untuk Anda.

Pahami Aset dan Pasar Kripto

Warren Buffet pernah berkata, “Jangan pernah berinvestasi pada sesuatu yang Anda tidak mengerti”. Sebelum memulai investasi, Anda harus memahami apa itu aset digital, apa itu Bitcoin, dan apa itu Altcoin. Pahami terlebih dulu cara kerja masing-masing aset, pasar, dan tren di dalamnya.

Setelah mengetahui hal tersebut, Anda akan memahami bagaimana cara kerja pasar dan apa saja faktor-faktor yang membentuk pola atau tren. Ingat bahwa pasar aset kripto memiliki volatilitas yang tinggi. Pergeseran atau perubahan nilai sekecil apapun dapat mempengaruhi besar aset yang Anda miliki.

Biasanya, volatilitas Bitcoin cenderung lebih stabil dibandingkan dengan Altcoin. Dari sisi volume perdagangan, Bitcoin juga memiliki likuiditas lebih tinggi ketimbang Altcoin. Oleh sebab itu, pelajari pasar dan aset kripto dengan baik beserta risiko yang ada di dalamnya.

Pelajari Kegunaan Masing-masing Aset Kripto

Sebagian besar aset kripto diciptakan untuk tujuan atau fungsi tertentu. Ethereum misalnya, aset kripto ini disiapkan bukan hanya sebagai mata uang digital, tetapi juga sebagai platform yang dapat membantu developer mengembangkan aset kripto mereka. Bitcoin sendiri diciptakan sebagai mata uang baru.

Agar investasi kamu tepat guna, sebaiknya kamu meluangkan waktu untuk membaca whitepaper tentang masing-masing aset kripto. Whitepaper adalah dokumen lengkap yang disiapkan oleh para pembuat aset kripto dengan informasi terperinci mengenai latar belakang, tujuan, sistem yang digunakan, protokol, dan bahkan jumlahnya.

Whitepaper juga dapat menjadi salah satu indikator penting untuk menentukan apakah aset tersebut layak dijadikan sebagai sebuah investasi. Jika pihak penerbit tidak dapat menjelaskan kegunaan token mereka, maka Anda lebih baik berpikir dua kali untuk berinvestasi dalam aset kripto tersebut.

Informasi ini dapat membantu Anda untuk mempersempit pilihan aset digital mana yang baik untuk dibeli. Hindari berinvestasi pada token yang tidak memiliki kegunaan atau tidak punya aset pendukung. Sebab, kemungkinan besar aset kripto tersebut dapat kehilangan nilainya dalam waktu singkat.

Diversifikasi Aset

Ada pepatah yang mengatakan, “Jangan menaruh semua telur di dalam satu keranjang”. Sebab, jika kamu menjatuhkan sebuah keranjang, maka semua telurnya akan pecah. dengan melakukan diversifikasi aset, Anda tidak akan menempatkan seluruh dana yang Anda mililki dalam sebuah aset saja.

Diversifikasi portofolio akan membantu Anda menghindari kerugian akibat volatilitas aset. Anda disarankan untuk berinvestasi dalam jumlah kecil di beberapa aset. Cara ini akan membantu kamu menyeimbangkan besar kerugian dan keuntungan ketika terjadi koreksi dalam aset kripto.

Pertimbangkan Stablecoin

Ada beragam jenis aset kripto yang bisa Anda manfaatkan untuk berinvestasi. Selain aset kripto yang volatil, ada pula stablecoin. Stablecoin adalah jenis aset kripto yang nilainya cendering lebih stabil karena dipatok pada aset tertentu. USDT misalnya yang dipatok pada nilai dolar AS atau xbullion (GOLD) yang menggunakan emas sebagai dasar nilainya.

Selain USDT dan GOLD, ada pula token sekuritas yang dikenal sebagai STO. Salah satu bentuk paling umum dari STO adalah token sekuritisasi real estate. Misalnya, perusahaan real estate ingin mengumpulkan uang untuk proyek tertentu yang sedang mereka bangun. Daripada harus mengumpulkan dana publik untuk perusahaan melalui IPO, mereka dapat mengumpulkan dana dalam skala kecil melalui STO.

Cara Mining Altcoin

Setelah mengetahui apa itu Altcoin dan jenis Altcoin, kini saatnya kita mengenal arti Mining. Mining adalah fitur vital dari banyak kripto. Sederhananya, mining merupakan proses penambangan yang dilakukan dengan menyelesaikan operasi matematis rumit yang disiapkan oleh blockchain.

Tidak semua Altcoin dapat ditambang. Bisa satau tidaknya sebuah aset kripto ditambang dapat dilihat dari cara aset kripto tersebut dibentuk. Ethereum dan Litecoin adalah beberapa contoh altcoin yang bisa ditambang. Sementara itu, Ripple, IOTA, dan Cardano adalah beberapa aset kripto yang tidak dapat ditambang, namun dicetak.

Cara Trading Bitcoin dan Altcoin

  1. Jika Anda ingin membeli aset digital, belilah ketika harga sedang rendah
  2. Jangan pernah membeli kripto ketika harga sedang melambung tinggi
  3. Jika ingin mendapatkan nilai keuntungan yang besar, Anda tidak perlu menaruh seluruh modal Anda hanya pada satu aset digital saja. Kenapa? Karena risiko kehilangannya akan jadi jauh lebih besar.
  4. Sabar adalah kunci dari keberhasilan. Jangan berharap terlalu besar terhadap aset kripto Anda. Ketika mengambil profit, Anda bisa mengambil hanya 10-20 persen dari total aset yang Anda miliki. Keuntungan yang Anda peroleh memang tidak terlalu besar. Namun, sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit.

Jenis-jenis Wallet Altcoin dan Bitcoin

Online Wallet

Online wallet adalah wallet yang tidak menyimpan kunci karena kunci tersebut di-generate dan dikelola serta disimpan oleh penyedia online wallet. Untuk mendapatkannya, Anda hanya perlu mendaftar dan mengakses sistem penyedia wallet tersebut.

Pada jenis wallet ini, Anda sebagai pengguna dapat melakukan transaksi secara off-chain. Transaksi off-chain maksudnya adalah transaksi yang hanya bisa terjadi pada tingkat database saja, sehingga lebih efisien. Kekurangan dari wallet yang satu ini adalah keamanan.

Online wallet dianggap less secure dibandingkan transaksi on-chain, karena tidak tercatat di blockchain dan bergantung pada keamanan sistem penyedia online wallet.

Mobile/Browser Wallet

Mobile/browser wallet adalah aplikasi wallet yang digunakan untuk mengakses jaringan blockchain secara langsung dengan menggunakan kunci oleh penggunanya. Pada wallet jenis ini, pengguna dapat mengecek saldo, menyimpan nomor rekening (address) penerima kripto, dan melakukan transfer aset kripto ke wallet lain. Seluruh transaksi dalam browser wallet dapat dilacak pada blockchain.

Cold Wallet

Cold Wallet adalah wallet khusus yang digunakan untuk menyimpan kunci yang tidak terhubung dengan jaringan internet sama sekali. Cold wallet hanya dapat tersambung ke jaringan saat dibutuhkan saja. Cold wallet dapat berupa kertas maupun perangkat keras.

Setelah memahami informasi apa itu altcoin dan fakta-fakta lainnya, apakah kamu sudah siap untuk investasi?

———————————————

Aset kripto legal di Indonesia berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Bursa (Bappebti) pada Februari 2019.

Yuk, ikuti perkembangan aset kripto hanya di akun media sosial Zipmex:

Instagram Facebook Twitter